Kembali

Tanah Longsor Masih Mengancam di Magelang

Magelang, 21/1/2026 



Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang melanda sejumlah kecamatan di Kabupaten Magelang pada Selasa (20/1/2026) malam hingga sore hari, memicu belasan titik bencana tanah longsor. Bencana ini mengancam sejumlah rumah, merusak bangunan, dan memutus akses jalan.

Data yang dihimpun dari berbagai lokasi menunjukkan skala kerusakan yang cukup luas. Di Kecamatan Sawangan, hujan lebat menyebabkan tebing setinggi 20 meter dengan panjang 15 meter longsor di Dusun Windusabarang, Desa Wonolelo. Longsoran ini mengancam tiga rumah milik warga yang jaraknya hanya 1-1,5 meter dari bibir tebing. Selain hujan, faktor pemicu diduga karena tidak adanya talang air untuk mengatur pembuangan air dari atap rumah.

Tidak jauh dari Sawangan, Kecamatan Salaman juga terdampak. Talud penahan tanah setinggi 3,5 meter dan lebar 16 meter di depan rumah Bapak Sugeng Triharto di Dusun Sabrang, Desa Margoyoso, longsor dan mengancam struktur rumahnya.

Di Kecamatan Pakis, longsor terjadi di dua lokasi berbeda. Di Dusun Bawang, Desa Bawang, tebing setinggi 10 meter longsor dan menyeret pepohonan, menutup akses jalan alternatif menuju Kecamatan Candimulyo. Sementara di Dusun Babadan, Desa Banyusidi, longsoran talud rumah milik Bapak Kuat (60) menyebabkan bagian dapur roboh dan struktur rumah condong. Keluarga korban terpaksa mengungsi ke rumah anaknya.

Kecamatan Grabag juga mengalami dua kejadian serius. Di Dusun Batur, Desa Citrosono, longsoran tebing setinggi 10 meter menutup akses jalan antar desa dengan material setebal 2 meter. Tim dari BPBD Kabupaten Magelang saat turun ke lokasi untuk melaksanakan penanganan dan asesmen lanjutan menemukan retakan yang berpotensi menyebabkan longsor susulan jika hujan kembali datang. Di dusun yang sama, tebing setinggi 12 meter longsor dan menimpa rumah Bapak Istadi, menyebabkan kerusakan ringan pada dinding belakang.


Di Kecamatan Borobudur, material longsoran dari tebing setinggi 5 meter mengenai bagian belakang rumah Bapak Sarjono yang berlokasi di bawah tebing.

Sementara itu, di Kecamatan Secang, tepatnya Dusun Gembongan, Desa Payaman, longsor dipicu oleh aktivitas penebangan pohon. Material kayu dan bambu yang menutup saluran irigasi menyebabkan air meluap deras ke jalan dusun saat hujan, mengganggu akses warga dan berpotensi masuk permukiman.

Kejadian beruntun ini menyoroti kerentanan kawasan perbukitan di Magelang terhadap cuaca ekstrem. Faktor alam seperti hujan dengan intensitas tinggi diperparah oleh faktor antropogenik, seperti kurangnya penataan drainase, aktivitas di lereng, dan penebangan pohon, yang memperbesar risiko bencana. (tege akatsuki)