
KAJORAN – Dua peristiwa tanah longsor terjadi secara beruntun
di Dusun Krajan, Desa Pucungroto, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang, pada
Jumat (24/10/2025) malam dan Sabtu (25/10/2025) dini hari. Hujan dengan
intensitas sedang hingga lebat yang mengguyur wilayah tersebut menyebabkan
talud penahan tanah dan tebing setinggi lima meter longsor, merusak dua rumah
dan mengancam beberapa rumah lainnya.
Peristiwa pertama terjadi pada Jumat (24/10/2025) sekitar
pukul 22.00 WIB, ketika talud senderan rumah milik Wasalim (35) longsor dan
menimpa bagian dapur rumah milik Mufit Sa’dulloh (30) di bawahnya. Beberapa jam
berselang, pada Sabtu (25/10/2025) pukul 02.00 WIB, longsor kembali terjadi di
lokasi yang sama, mengancam rumah milik Lala dan Margeno akibat pergeseran
tanah di tebing setinggi lima meter.
Hujan yang turun sejak siang hingga malam di wilayah
Kecamatan Kajoran menjadi pemicu utama terjadinya longsor. Longsoran pertama
dengan dimensi panjang sekitar 6 meter dan tinggi 3 meter terjadi di RT 04/RW
01, Dusun Krajan. Material tanah dan batu dari talud penahan rumah Wasalim
ambruk ke bawah dan menimpa dapur rumah Mufit Sa’dulloh hingga roboh.
Beruntung tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Namun,
kondisi dapur rumah korban mengalami kerusakan cukup berat dan tidak bisa
digunakan sementara waktu.
Beberapa jam setelahnya, sekitar pukul 02.00 WIB dini hari,
longsor kedua terjadi di RT 04/RW 04 dusun yang sama. Tebing setinggi 5 meter
dan lebar 8 meter ambrol dan mengenai bagian belakang rumah milik warga bernama
Lala dan Margeno. Longsoran kedua ini juga menimbulkan kekhawatiran akan adanya
longsor susulan, karena di bagian atas tebing masih tampak retakan tanah cukup
lebar yang berpotensi kembali runtuh bila diguyur hujan.
Dari hasil pendataan Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten
Magelang, dua rumah dilaporkan rusak — satu dalam kondisi rusak ringan milik
Mufit Sa’dulloh, dan satu terancam rusak milik Wasalim. Selain itu, dua rumah
lain milik Lala dan Margeno kini berada dalam kondisi terancam longsor susulan.
Tidak ada korban jiwa maupun luka dalam kedua peristiwa ini.
Namun, warga setempat diminta tetap waspada mengingat kondisi tanah yang masih
labil dan curah hujan yang masih berpotensi tinggi di wilayah Kajoran.
Menurut laporan Eko Heriyawan, petugas BPBD Kabupaten
Magelang yang berada di lokasi, tim segera melakukan kaji cepat dan
berkoordinasi dengan perangkat desa setempat untuk penanganan awal.
“Begitu menerima laporan dari warga, saya menuju lokasi untuk
melakukan asesmen cepat dan memastikan tidak ada korban. Warga bersama relawan
juga kami dorong untuk gotong royong membersihkan material longsoran,” jelas Eko
Heriyawan, Sabtu (25/10/2025).
Selain asesmen dan koordinasi, BPBD bersama pemerintah desa
menjadwalkan kerja bakti bersama warga dan relawan pada Sabtu pagi untuk
menyingkirkan material longsor serta memperkuat area yang berpotensi runtuh
kembali.
Warga terdampak, Mufit Sa’dulloh, mengaku kejadian
berlangsung tiba-tiba dan tidak sempat menyelamatkan sebagian perabotan di
dapur rumahnya.
“Sekitar jam sepuluh malam, saya dengar suara gemuruh dari
arah belakang rumah. Pas dicek, tembok dapur sudah roboh tertimpa tanah dari
atas. Untung keluarga saya sudah tidur di ruang depan,” ujarnya.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang, Edi Wasono, saat
dikonfirmasi membenarkan kejadian tersebut dan mengingatkan masyarakat agar
lebih meningkatkan kewaspadaan.
“Kajoran termasuk wilayah dengan kontur tanah perbukitan dan
curah hujan tinggi. Kami mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di lereng
dan bantaran sungai, agar segera melapor bila menemukan retakan tanah atau
tanda-tanda longsor,” ungkap Edi.
Desa Pucungroto berada di kawasan perbukitan yang rawan
terhadap gerakan tanah, terutama pada musim penghujan. Berdasarkan peta rawan
bencana yang dimiliki BPBD Kabupaten Magelang, Kecamatan Kajoran termasuk zona
dengan potensi tanah longsor menengah hingga tinggi, terutama di wilayah Dusun
Krajan, Wonogiri, dan Kalidadap.
BPBD Kabupaten Magelang mencatat, sejak awal Oktober 2025,
telah terjadi lima kali kejadian tanah longsor di beberapa kecamatan seperti
Kajoran, Bandongan, dan Salaman, yang sebagian besar dipicu oleh hujan dengan
intensitas sedang hingga tinggi.
Petugas BPBD bersama pemerintah desa telah memasang pembatas dan tanda peringatan di sekitar area
rawan longsor untuk mencegah aktivitas warga terlalu dekat dengan tebing. Warga
yang rumahnya terancam juga telah disarankan untuk mengungsi sementara ke rumah
kerabat terdekat.
“Kami masih terus pantau perkembangan di lapangan. Bila curah
hujan meningkat, kemungkinan akan dilakukan relokasi sementara bagi warga yang
rumahnya berada di bawah tebing,” tambah Eko Heriyawan.
Selain itu, pihak BPBD juga mengimbau masyarakat untuk:
1. Tidak beraktivitas terlalu dekat
dengan tebing atau talud yang retak.
2. Menjaga saluran air agar tidak
tersumbat, karena dapat mempercepat erosi.
3. Segera melapor ke pemerintah desa
atau Pusdalops BPBD jika menemukan tanda-tanda longsor seperti retakan tanah,
pohon miring, atau suara gemeretak dari lereng.
Hingga Sabtu (25/10/2025) siang, kegiatan kerja bakti bersama
warga dan relawan masih berlangsung. BPBD Kabupaten Magelang terus melakukan
pemantauan dan pendampingan di lapangan untuk memastikan keamanan warga.
Kondisi di lokasi saat ini relatif terkendali, namun kewaspadaan tetap
ditingkatkan mengingat curah hujan di wilayah Kajoran masih berpotensi tinggi
dalam beberapa hari ke depan.