
WONOGIRI, 11 Desember 2025 – Dalam upaya konkret meningkatkan kapasitas dan efektivitas penanggulangan bencana, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang melaksanakan kunjungan studi replikasi ke BPBD Kabupaten Wonogiri pada Kamis (11/12/2025). Kunjungan yang berlangsung mulai pukul 11.00 WIB ini diikuti oleh 13 orang aparatur BPBD Magelang dengan tujuan utama menyerap pengetahuan dan praktik terbaik (best practices) dari daerah yang telah memiliki rekam jejak solid dalam membangun ketangguhan bencana.
Kepala Sekertariat BPBD
Kabupaten Magelang, Mushokip, S.Pd., M.M., yang memimpin langsung rombongan,
menegaskan landasan filosofis dari kunjungan ini. “Kami percaya bahwa ilmu
penanggulangan bencana itu seperti air; mengalir dari tempat yang tinggi ke
tempat yang lebih rendah. Wonogiri telah berada di 'ketinggian' tersebut dengan
berbagai capaian nyatanya. Tantangan geografis dan hidrometeorologi kami di
Magelang punya kemiripan, sehingga pembelajaran dari sini sangat kontekstual,”
ujarnya membuka pertemuan.
Sambutan hangat disampaikan
oleh Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Wonogiri, Fuad Wahyu Pratama, S.STP.,
M.Si., yang langsung menekankan semangat berbagi. “Prinsip kami sederhana:
pengetahuan yang tidak dibagikan akan mandek. Justru dengan berbagi, kami juga
jadi terdorong untuk terus berinovasi. Silakan digali, ditanya, ambil yang
baik, dan kritik yang kurang,” kata Fuad.
Sesi pembuka studi replikasi
menyoroti struktur organisasi BPBD Wonogiri yang dirancang sederhana namun
fungsional. Terdiri atas Kepala Pelaksana, Sekretaris, Bidang Kesiapsiagaan dan
Mitigasi, serta Bidang Kedaruratan dan Rehabilitasi. Penyederhanaan ini,
menurut Fuad, justru mempermudah koordinasi dan memperpendek alur komando saat
terjadi darurat.
Yang menarik adalah komposisi
Sumber Daya Manusia (SDM). Dengan total 10 Pegawai Negeri Sipil (PNS), 3
Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) penuh waktu, 10 PPPK paruh
waktu, dan 1 tenaga outsourcing, BPBD Wonogiri menunjukkan kemampuan beradaptasi
dengan keterbatasan formasi. Fuad menjelaskan, “Kunci utamanya adalah fungsi
koordinasi, komando, dan pelaksana harus berjalan sinergis. Kami mungkin kecil
secara jumlah, tetapi dengan kolaborasi yang solid dengan relawan dan
stakeholder lain, kapasitas operasional kami bisa optimal.”
Â
Menyimak hal ini, Mushokip menambahkan
perspektif dari Magelang. “Ini menjadi pembelajaran berharga. Seringkali kita
terpaku pada jumlah ideal di atas kertas, sementara di lapangan kita harus
bekerja dengan apa yang ada. Wonogiri menunjukkan bahwa kejelasan fungsi dan
kolaborasi eksternal lebih penting daripada sekadar menambah orang di
struktur.”
Diskusi berlanjut pada
pembelajaran dari kejadian bencana besar. Fuad menyebut Siklon Tropis Cempaka
yang melanda pada 2017 sebagai titik balik (turning point) paradigma
penanggulangan bencana di Wonogiri. Bencana hidrometeorologi ekstrem itu
menyebabkan banjir dan tanah longsor masif, menimbulkan korban jiwa dan
kerugian material yang besar.
“Siklon Cempaka adalah ujian
berat sekaligus guru terbaik. Pasca bencana itu, kami menyadari betapa
pentingnya membangun budaya sadar bencana dari tingkat masyarakat terdalam. Ini
mendorong kami untuk menggenjot edukasi, memperkuat sistem peringatan dini, dan
yang paling utama, mereformasi total mekanisme koordinasi antar sektor,” papar
Fuad. Trauma kolektif tersebut diubah menjadi energi untuk membangun sistem
yang lebih kokoh, dimana masyarakat tidak lagi sebagai objek pasif, tetapi
sebagai subjek aktif dalam penanggulangan bencana.
Salah satu materi yang paling
menginspirasi adalah keberhasilan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB)
Kabupaten Wonogiri. Dibentuk sejak 2015, FPRB Wonogiri telah berkembang menjadi
motor penggerak partisipasi masyarakat yang sangat mandiri dan powerful.
“Yang membedakan, FPRB kami
beroperasi secara mandiri tanpa mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah (APBD). Sumber pendanaan utama berasal dari iuran sukarela anggotanya.
Ini menunjukkan tingkat komitmen dan kesadaran yang sangat tinggi,” jelas salah
seorang pengurus FPRB yang hadir.
Aktivitas FPRB mencakup
seluruh siklus penanggulangan bencana, mulai dari pra-bencana seperti latihan
dan mitigasi, hingga tanggap darurat dan pemulihan. Mendengar penjelasan ini,
seorang peserta dari BPBD Magelang tak bisa menyembunyikan kekagumannya. “Ini
level partisipasi yang luar biasa. Selama ini kita mungkin masih berpikir
'memberdayakan' masyarakat dengan pendanaan dari atas. Ternyata, ketika mereka
benar-benar sadar, mereka justru bisa mandiri dan berkontribusi lebih besar.
Ini mindset yang harus kita bawa pulang.” jelasnya
BPBD Wonogiri memaparkan
beragam program pencegahan dan kesiapsiagaan yang telah dijalankan, termasuk
pelatihan untuk kelompok disabilitas. “Mitigasi dan evakuasi harus inklusif.
Kami punya modul khusus untuk melatih penyandang disabilitas dan kelompok rentan
lainnya, sehingga mereka tahu harus berbuat apa saat darurat. Mereka bukan
beban, tapi bagian dari solusi yang harus kita bekali,” jelas Fuad.
Menyikapi hal tersebut, Mushokip berkomentar, “Aspek inklusivitas ini sering terlewat. Padahal, dalam kondisi panik, kelompok rentan adalah yang paling terdampak. Wonogiri mengingatkan kita bahwa membangun ketangguhan harus menyeluruh, tanpa meninggalkan seorang pun di belakang.” ungkapnya
Dalam sistem peringatan dini,
Wonogiri menerapkan pendekatan hybrid yang cerdas. Di satu sisi, mereka
memanfaatkan teknologi mutakhir seperti EWS. Namun, di sisi lain, mereka tidak
meninggalkan kearifan lokal yang telah teruji seperti kentongan dan TOA masjid.
“Di banyak daerah terpencil, saat listrik padam atau sinyal terputus, kentongan
dan TOA-lah yang paling cepat dan dapat diandalkan. Ini adalah teknologi yang
sudah dipahami semua lapisan masyarakat, dari anak-anak hingga orang tua,” ujar
Fuad.
“Inilah contoh integrasi yang
brilliant, kadang kita terjebak pada gadget canggih yang mahal, tapi lupa bahwa
efektivitas terletak pada apakah pesan sampai ke masyarakat. Kombinasi
high-tech dan high-touch seperti ini yang akan kita coba terapkan di Magelang,
terutama di desa-desa terpencil.” ujarnya
Pencapaian signifikan lain
yang dipaparkan adalah keberhasilan pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana)
di seluruh desa/kelurahan. Kunci keberhasilan ini adalah optimalisasi
penggunaan Dana Desa. “Kami mendorong dan mendampingi setiap desa untuk mengalokasikan
sebagian Dana Desa mereka untuk program Destana. Ini membuat program jadi
berkelanjutan karena didanai dari anggaran desa sendiri, bukan proyek sekali
waktu,” jelas Fuad.
Mushokip langsung melihat
peluang konkret. “Ini poin aksi yang sangat jelas untuk kami. Dana Desa di
Magelang juga potensinya besar. Tugas kami adalah mendorong dan memfasilitasi
agar alokasi untuk kesiapsiagaan bencana menjadi prioritas di tingkat desa.
Destana bukan sekadar label, tapi tentang kemampuan mandiri desa.”
Pengelolaan Pusdalops BPBD
Wonogiri juga dijelaskan dengan rinci. Trias Budiono, S.Sos, M.I.Kom Sekretaris
BPBD Kabupaten Wonogiri memaparkan, “Kami tidak hanya aktif saat darurat.
Setiap hari, kami menyebarkan informasi prakiraan cuaca, edukasi, dan tips
keselamatan melalui media sosial. Jadikan Pusdalops sebagai sumber informasi
terpercaya, maka masyarakat akan datang sendiri mencari informasi.” katanya
“Konsep Pusdalops sebagai pusat layanan informasi publik, bukan hanya ruang komando internal, ini penting,” timpal Mushokip. “Selama ini fokus kita mungkin masih pada pelaporan ke atas. Wonogiri mengajak kita untuk juga melayani ke luar, kepada publik. Itu cara membangun kepercayaan.” ujarnya
Di akhir kunjungan yang berlangsung hingga sore hari, Kepala BPBD Magelang, Mushokip, menyimpulkan bahwa studi replikasi ini sangat produktif. “Kami mendapatkan gambaran utuh tentang bagaimana membangun sistem penanggulangan bencana yang tangguh, dengan masyarakat sebagai aktor utama. Kolaborasi erat pemerintah dan komunitas, ditunjang oleh inovasi dan kemandirian, adalah resep utama kesuksesan Wonogiri meski dengan SDM dan anggaran terbatas.” pungkasnya
 