
Dalam
rangka meningkatkan kesiapsiagaan dan memperkuat koordinasi lintas sektor dalam
menghadapi potensi bencana erupsi Gunung Merapi, Komando Distrik Militer
(Kodim) 0705/Magelang menggelar simulasi penanggulangan bencana dan evakuasi
erupsi Gunung Merapi di Lapangan Desa Dukun, Kecamatan Dukun, Kabupaten
Magelang, pada Kamis (2/10/2025).
Kegiatan
ini diikuti oleh ratusan personel dari berbagai unsur, meliputi Forkopimda
Kabupaten Magelang, TNI, Polri, BPBD, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Damkar,
PMI, Basarnas, Satpol PP, Satlinmas, serta berbagai relawan kebencanaan. Total
terdapat sekitar 400 personel yang terlibat secara langsung dalam kegiatan
simulasi tersebut.
Simulasi
dimulai dengan apel gelar pasukan yang dipimpin langsung oleh Komandan Kodim
0705/Magelang, Letkol Inf Afrizal Rakhman, dilanjutkan dengan pengecekan
personel dan peralatan, serta pelaksanaan simulasi evakuasi masyarakat dari
wilayah terdampak menuju titik aman.
Dalam
sambutannya, Letkol Afrizal menegaskan bahwa latihan ini menjadi bagian penting
dari upaya mitigasi bencana dan sinergi antarinstansi. Latihan semacam ini
tidak hanya bertujuan melatih keterampilan teknis, tetapi juga membangun
koordinasi serta kesadaran kolektif tentang pentingnya kesiapsiagaan.
“Kita
terus mensinergikan seluruh komponen yang dapat mendukung apabila terjadi
bencana alam. Bencana tentu tidak kita harapkan, tetapi bisa terjadi kapan saja
dan tanpa bisa diprediksi. Melalui kegiatan ini, kita berupaya memastikan bahwa
setiap unsur, baik TNI, Polri, pemerintah daerah, maupun masyarakat, tahu apa
yang harus dilakukan saat kondisi darurat,” ujar Letkol Inf Afrizal Rakhman di
sela kegiatan.
Ia
menambahkan bahwa simulasi ini juga menjadi sarana untuk menguji jalur evakuasi,
kesiapan lokasi pengungsian, serta efektivitas mekanisme koordinasi antar
sektor yang selama ini telah disusun dalam rencana kontinjensi. Salah satu
strategi utama yang ditekankan adalah optimalisasi peran desa penyangga (Sister
Village) sebagai lokasi pengungsian sementara bagi warga dari wilayah rawan
bencana (KRB) III.
“Kita
sudah menentukan beberapa titik jalur evakuasi dan desa penyangga yang siap
menampung warga terdampak. Setelah kolaborasi ini, kita harapkan setiap pihak
sudah paham tugas dan tanggung jawabnya. Jadi tidak ada lagi kebingungan di
lapangan ketika bencana benar-benar terjadi,” jelasnya.
Sementara
itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang, Edi Wasono, menyampaikan bahwa
kegiatan simulasi ini dilaksanakan dengan memperhatikan kondisi terkini Gunung
Merapi yang masih berstatus Siaga (Level III), dengan aktivitas vulkanik yang
terus terjadi dan berpotensi menimbulkan bahaya sekunder seperti banjir lahar
dingin di musim hujan.
“Simulasi
ini tidak hanya menjadi bentuk latihan teknis, tapi juga langkah strategis
untuk memastikan seluruh elemen tanggap darurat siap bergerak ketika situasi
bencana benar-benar terjadi. Personel dari berbagai unsur dilibatkan sesuai
dengan fungsinya masing-masing, mulai dari pengamanan, evakuasi, kesehatan,
hingga logistik,” ujar Edi.
BPBD
Kabupaten Magelang, lanjutnya, juga memastikan kesiapan jalur logistik, titik
pengungsian, serta pelayanan kesehatan di lokasi latihan, termasuk kegiatan pengobatan
gratis bagi masyarakat sekitar sebagai bagian dari kegiatan sosial.
“Kami
berkoordinasi dengan seluruh sektor terkait, baik TNI, Polri, maupun OPD di
lingkungan Pemerintah Kabupaten Magelang. Kolaborasi ini menjadi bentuk nyata
upaya menghilangkan ego sektoral, karena dalam penanganan bencana yang utama
adalah keselamatan masyarakat,” tegasnya.
Edi
menambahkan, melalui kegiatan seperti ini diharapkan masyarakat di wilayah
rawan bencana dapat lebih memahami potensi ancaman di lingkungannya, sekaligus
meningkatkan kesadaran untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan kesiapsiagaan.
“Tujuan
utamanya adalah membangun kesadaran bersama. Masyarakat di KRB III harus tahu
apa yang harus dilakukan ketika tanda-tanda bahaya muncul, mulai dari mengenali
jalur evakuasi, membawa dokumen penting, hingga menuju titik kumpul yang telah
ditentukan. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari peningkatan kapasitas bagi
aparat dan relawan kebencanaan,” pungkasnya.
Kegiatan
ditutup dengan evaluasi bersama antarinstansi untuk menilai efektivitas
simulasi dan mengidentifikasi aspek-aspek yang perlu ditingkatkan dalam rencana
penanggulangan bencana ke depan.
Dengan
adanya kegiatan ini, diharapkan koordinasi lintas sektor antara Pemerintah
Daerah, TNI, Polri, lembaga kemanusiaan, dan masyarakat dapat semakin solid,
sehingga Kabupaten Magelang senantiasa siap dan tangguh menghadapi setiap
potensi ancaman bencana alam.
