MUNGKID – Upaya memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi musim kemarau panjang tahun 2026 terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Magelang. Melalui kegiatan Sosialisasi Kesiapsiagaan Musim Kemarau 2026 dan Konsolidasi Relawan Penanggulangan Bencana yang digelar di Pendopo Kantor BPBD Kabupaten Magelang, Kamis (25/6/2026), pemerintah daerah melalui BPBD bersama ratusan relawan menyatukan langkah untuk memperkuat mitigasi, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, serta membangun sistem koordinasi yang lebih cepat dalam menghadapi ancaman kekeringan dan kebakaran hutan maupun lahan.
Kegiatan yang diikuti sekitar 150 relawan dari 10 kecamatan
wilayah eks Kawedanan Salam, Salaman, dan Bandongan tersebut tidak hanya
menjadi forum penyampaian informasi terkait prediksi musim kemarau, tetapi juga
menjadi ruang konsolidasi lintas pemangku kepentingan untuk memperkuat
kolaborasi dalam penanggulangan bencana.
Wakil Bupati Magelang, Sahid, menegaskan bahwa hasil utama
dari kegiatan tersebut adalah semakin kuatnya sinergi antara pemerintah daerah,
relawan, dan masyarakat dalam menghadapi ancaman musim kemarau yang
diperkirakan lebih panjang dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Menurutnya, berdasarkan informasi resmi dari BMKG, Kabupaten
Magelang berpotensi mengalami musim kemarau yang lebih panjang akibat pengaruh
fenomena El Nino. Kondisi tersebut perlu diantisipasi sejak dini karena
berpotensi memicu berbagai dampak, mulai dari kekurangan air bersih, gangguan
sektor pertanian, kebakaran lahan dan permukiman, hingga meningkatnya risiko
gangguan kesehatan masyarakat.
“Relawan adalah ujung tombak penanggulangan bencana. Mereka
menjadi mata dan telinga pemerintah di lapangan. Melalui kegiatan ini kami
ingin memastikan para relawan memiliki informasi yang sama, memahami potensi
ancaman yang akan dihadapi, serta mampu menjadi agen edukasi bagi masyarakat
untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau,” kata Sahid.
Ia menjelaskan, sejumlah wilayah di Kabupaten Magelang yang
selama ini menjadi langganan kekeringan berpotensi mengalami kondisi yang lebih
ekstrem apabila dampak El Nino berlangsung sesuai prediksi. Karena itu,
kesiapsiagaan seluruh pihak menjadi faktor penting untuk meminimalkan risiko.
Wilayah yang menjadi prioritas perhatian antara lain
Kecamatan Borobudur, Salaman, Tempuran, Bandongan, Kajoran, Windusari, Grabag,
Ngablak, Candimulyo, Pakis, Tegalrejo, Sawangan, Ngluwar, dan Muntilan.
Sahid menegaskan bahwa penanggulangan bencana tidak dapat
dilakukan oleh pemerintah semata. Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun
2007 tentang Penanggulangan Bencana, penanganan bencana harus melibatkan
seluruh unsur pentahelix, yakni pemerintah, dunia usaha, akademisi, media
massa, serta masyarakat atau relawan.
“Menjadi relawan adalah panggilan hati dan bentuk pengabdian
kepada sesama. Relawan bukan bekerja sendiri, tetapi menjadi bagian dari sistem
penanggulangan bencana daerah. Karena itu saya mengajak seluruh relawan untuk
terus meningkatkan kapasitas, memperkuat koordinasi, serta menjaga semangat
kemanusiaan dalam setiap tugas yang dijalankan,” ujarnya.
Dalam arahannya kepada para relawan, Sahid juga menekankan
pentingnya peningkatan kompetensi melalui berbagai pelatihan kebencanaan.
Selain itu, relawan diminta memperkuat koordinasi dengan BPBD, Dinas Sosial,
Dinas Kesehatan, pemerintah desa, pemerintah kecamatan, dan berbagai instansi
terkait lainnya.
Ia berharap para relawan dapat memegang teguh nilai kerja
cepat, tepat, tanggap, dan mampu menyentuh kebutuhan masyarakat secara
langsung. Tidak kalah penting, relawan juga harus menjadi agen edukasi
kebencanaan yang aktif menyampaikan informasi, meningkatkan kesiapsiagaan
masyarakat, dan melaporkan potensi bencana secara dini.
“Menghadapi musim kemarau bukan hanya soal bagaimana
merespons ketika bencana sudah terjadi. Yang jauh lebih penting adalah
bagaimana kita bersiap sejak sekarang. Semangat gotong royong dan kolaborasi
adalah kekuatan terbesar yang dimiliki Kabupaten Magelang dalam menghadapi
berbagai ancaman bencana,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang,
Bambang Hermanto, menjelaskan bahwa seluruh langkah kesiapsiagaan yang
dilakukan saat ini didasarkan pada informasi dan prediksi resmi BMKG Provinsi
Jawa Tengah.
Menurut Bambang, BPBD telah melakukan koordinasi dan
konsultasi dengan BMKG untuk memperoleh gambaran kondisi musim kemarau tahun
2026 sebagai dasar dalam menyusun strategi mitigasi dan kesiapsiagaan.
“Sebagai perangkat daerah yang mendapat amanah untuk
melaksanakan penanggulangan bencana, kami harus memastikan seluruh langkah yang
diambil berdasarkan data dan informasi yang valid. Karena itu kami
berkoordinasi dengan BMKG dan menjadikan informasi resmi tersebut sebagai dasar
dalam menyusun langkah kesiapsiagaan bersama seluruh pemangku kepentingan,”
jelas Bambang.
Berdasarkan hasil koordinasi tersebut, musim kemarau tahun
2026 diperkirakan berlangsung lebih panjang dibandingkan tahun 2024 maupun
2025, dengan puncak kemarau diprediksi terjadi pada bulan Agustus.
Kondisi tersebut berpotensi memicu sejumlah ancaman, terutama
kekeringan, penurunan debit air, serta meningkatnya risiko kebakaran hutan dan
lahan.
“Ketika musim kemarau berlangsung lebih panjang dan lebih
kering, maka dampak yang harus diantisipasi adalah kekeringan, penurunan debit
air, serta kebakaran hutan dan lahan. Dua ancaman terakhir menjadi fokus
perhatian kami karena memiliki potensi cukup besar terjadi di Kabupaten
Magelang,” ujarnya.
Bambang menambahkan bahwa pengalaman menghadapi El Nino pada
tahun 2023 menjadi pelajaran penting bagi pemerintah daerah dalam menyusun
langkah antisipasi tahun ini.
Saat itu, BPBD mencatat penyaluran air bersih mencapai
sekitar 8 juta liter. Dari jumlah tersebut, hampir 2 juta liter disalurkan
langsung oleh BPBD, sedangkan sekitar 6 juta liter lainnya berasal dari
dukungan masyarakat, dunia usaha, komunitas, dan berbagai pihak yang
berkolaborasi dengan pemerintah daerah.
“Pengalaman tahun 2023 menjadi bekal penting bagi kami.
Penyaluran sekitar 8 juta liter air bersih saat itu menunjukkan bahwa
kolaborasi merupakan kunci utama dalam menghadapi kekeringan. Karena itu kami
terus memperkuat koordinasi dengan seluruh unsur masyarakat untuk menghadapi
potensi kemarau tahun 2026,” katanya.
Menurut Bambang, saat ini BPBD belum melakukan dropping air
bersih karena pendekatan yang dilakukan masih berfokus pada upaya preventif dan
mitigasi. Namun demikian, berbagai skenario penanganan telah dipersiapkan
apabila kondisi di lapangan mengharuskan adanya distribusi bantuan air bersih.
“Dropping air merupakan langkah reaktif. Saat ini fokus kami
adalah kesiapsiagaan dan mitigasi. Namun apabila masyarakat membutuhkan
bantuan, BPBD akan merespons sesuai kondisi dan informasi yang berkembang di
lapangan,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa berdasarkan pengalaman tahun
2023, wilayah terdampak kekeringan mencapai sekitar 20 hingga 21 kecamatan
dengan cakupan desa yang cukup luas.
Beberapa wilayah seperti Borobudur, Salaman, Tempuran,
Kajoran, hingga Pakis termasuk daerah yang memiliki tingkat kerawanan
kekeringan relatif tinggi.
Karena itu, keberadaan relawan menjadi sangat penting sebagai
sumber informasi awal dan penghubung antara pemerintah dengan masyarakat di
tingkat akar rumput.
“Salah satu tujuan utama kegiatan ini adalah memperkuat
kesiapsiagaan melalui relawan. Teman-teman relawan diharapkan menjadi garda
terdepan dalam memotret kondisi lapangan, menerima informasi awal, dan
menyampaikan laporan apabila terjadi potensi bencana maupun kondisi darurat di
wilayah masing-masing,” ujar Bambang.
Selain BPBD, kegiatan tersebut juga menghadirkan sejumlah
narasumber dari berbagai unsur pentahelix penanggulangan bencana.
Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Magelang, Mukh Ma'ruf, S.T.
dan Kartika Budi Arifyanti, menjelaskan peran DPRD sebagai mitra kerja BPBD
dalam mendukung berbagai program penanggulangan bencana, khususnya pada aspek
mitigasi dan penguatan kapasitas masyarakat.
Dalam sesi diskusi, DPRD juga menerima berbagai aspirasi yang
disampaikan relawan, terutama terkait jaminan kesehatan, jaminan kecelakaan
kerja, serta kebutuhan sarana dan prasarana pendukung kegiatan kebencanaan.
DPRD menegaskan komitmennya untuk terus mendorong peningkatan
perlindungan dan kesejahteraan relawan melalui mekanisme yang sesuai dengan
ketentuan dan proses birokrasi yang berlaku.
Para relawan juga didorong untuk terus membangun komunikasi
aktif dengan pemerintah desa dan pemerintah kecamatan agar berbagai kebutuhan
penanggulangan bencana dapat diakomodasi secara lebih efektif.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Forum Pengurangan Risiko
Bencana (FPRB) Kecamatan Muntilan yang diwakili oleh Arief Setyohadi, S.Pd.,
berbagi pengalaman mengenai praktik baik dalam pengelolaan organisasi relawan
di tingkat kecamatan.
Ia menjelaskan bagaimana FPRB Muntilan membangun kolaborasi dunia
usaha, Kecamatan hingga pemerintah desa dalam mendukung keberlangsungan Lembaga
Penanggulangan Bencana Desa (LPBD), termasuk penguatan kelembagaan, regulasi,
hingga dukungan terhadap berbagai kegiatan penanggulangan bencana di tingkat
lokal.
Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi
kecamatan lain dalam membangun sistem relawan yang aktif, mandiri, dan
berkelanjutan.
Materi lain juga disampaikan oleh perwakilan Kejaksaan Negeri
Kabupaten Magelang serta Kodim 0705/Magelang yang menjelaskan peran dan
dukungan masing-masing institusi dalam upaya penanggulangan bencana, khususnya
menghadapi ancaman kekeringan di Kabupaten Magelang.
Dalam sesi diskusi, relawan menyampaikan berbagai masukan
yang mencerminkan kondisi nyata di lapangan.
Salah satunya disampaikan oleh Nur Fauzan dari FPRB Borobudur
yang mengapresiasi terselenggaranya kegiatan sosialisasi dan konsolidasi
tersebut karena dinilai memberikan informasi yang sangat dibutuhkan relawan
menjelang musim kemarau.
Namun demikian, ia juga menyampaikan bahwa masih banyak
komunitas relawan yang menghadapi keterbatasan peralatan operasional.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini karena memberikan
bekal pengetahuan dan memperkuat koordinasi antarrelawan. Namun di sisi lain
kami berharap pemerintah daerah, BPBD, maupun DPRD dapat terus memperjuangkan
dukungan peralatan bagi komunitas relawan karena kebutuhan di lapangan masih
cukup besar,” kata Nur Fauzan.
Ia menilai dukungan sarana dan prasarana akan semakin
memperkuat kemampuan relawan dalam membantu masyarakat saat terjadi bencana.
Berbagai aspirasi yang muncul dalam forum tersebut menjadi
bagian penting dari proses konsolidasi sekaligus evaluasi bersama untuk
memperkuat sistem penanggulangan bencana daerah.
Kegiatan ini merupakan dukungan nyata untuk mewujudkan visi
Bupati Magelang Anyar Gress pada misi kelima dari Panca Darma, yaitu
"Meningkatkan upaya pelestarian lingkungan hidup dan pengelolaan sumber
daya alam yang berkelanjutan dan tanggap terhadap bencana", dengan fokus
program Sapta Cipta ketujuh: Lestari Alame.
Dalam mewujudkan Sapta Cipta Lestari Alame, BPBD telah
menetapkan Sapta Aksi, yaitu pembentukan Desa Tangguh Bencana, pengelolaan
Early Warning System (EWS), sosialisasi dan edukasi kebencanaan, pembentukan
kecamatan tangguh bencana, kolaborasi logistik kebencanaan, peningkatan
kapasitas relawan, serta pemulihan ekonomi pascabencana terutama untuk warga
miskin yang terdampak.
Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kabupaten Magelang tidak
hanya membangun kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau 2026, tetapi juga
memperkuat jaringan kolaborasi yang selama ini menjadi fondasi utama
penanggulangan bencana di daerah.
Konsolidasi tersebut menjadi bukti bahwa kesiapsiagaan
bencana bukan hanya soal merespons keadaan darurat, melainkan membangun
kemampuan bersama agar masyarakat lebih tangguh, lebih siap, dan lebih cepat
pulih ketika ancaman bencana datang.