
Pemerintah Kabupaten Magelang menggelar Rapat Koordinasi (Rakor)
Persiapan Menghadapi Musim Kemarau Tahun 2026 pada Senin, 27 April 2026, bertempat
di Ruang Rapat CCR Pusaka Gemilang. Kegiatan ini menghadirkan sejumlah
narasumber strategis, di antaranya Bupati Magelang, BMKG Stasiun Klimatologi
Jawa Tengah, Komisi IV DPRD Kabupaten Magelang, Kapolres Magelang, serta Kodim
0705.
Rakor ini diikuti oleh berbagai pemangku kepentingan, meliputi
Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait seperti DLH, DPUPR, Perhutani, TNGM
Merapi dan Merbabu, para camat se-Kabupaten Magelang, unsur BUMD dan CSR, serta
organisasi relawan kebencanaan seperti Baret, SAR Grabag, PMI, Magelang Trans
Community (MTC), Jaringan Pengemudi Angkutan Pasir (JPAP), dan FPRB
Borobudur. Kegiatan ini menjadi forum penting untuk menyatukan langkah dalam
menghadapi musim kemarau yang diprediksi lebih panjang dan kering dibandingkan
tahun sebelumnya.
Dalam arahannya, Bupati Magelang menekankan pentingnya perencanaan
yang matang dan koordinasi lintas sektor. Ia menyampaikan, “Perlu melakukan identifikasi
permasalahan apa saja yang akan dihadapi pada musim kemarau mendatang, lalu
buat tata laksana koordinasi antara pihak, baik OPD, organisasi, dan relawan.
BPBD juga diharapkan menyediakan data real time tentang titik rawan
kekeringan, titik pusat sumber air, dan kebutuhan data lain yang bisa diakses
oleh masyarakat agar kebutuhan air tetap dapat terpenuhi tanpa tumpang
tindih"
Sementara itu, Sri Endah Ardhi Ningrum, Pengamat Meteorologi dan
Geofisika dari BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, menjelaskan bahwa
Kabupaten Magelang diprediksi mulai memasuki musim kemarau pada Dasarian II
bulan Mei 2026, dengan puncak kemarau terjadi pada bulan Agustus. Ia
menambahkan bahwa musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih kering
dibandingkan tahun 2023, namun tidak lebih ekstrem dibandingkan tahun 2015 dan
2019. Oleh karena itu, diperlukan langkah kesiapsiagaan yang komprehensif untuk
menghadapi potensi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Berdasarkan paparan BMKG, kondisi iklim tahun 2026 dipengaruhi
oleh potensi fenomena El Nino yang diperkirakan muncul mulai pertengahan tahun
dengan peluang cukup tinggi, yang berkontribusi pada berkurangnya curah hujan
di wilayah Jawa Tengah. Di Kabupaten Magelang sendiri, musim kemarau diprediksi
memiliki sifat hujan di bawah normal dengan durasi berkisar 5 hingga 6 bulan.
Dari sisi kebencanaan, BPBD Kabupaten Magelang memaparkan bahwa
potensi ancaman utama pada musim kemarau meliputi kekeringan dan kebakaran
hutan dan lahan, terutama di wilayah-wilayah rawan seperti kawasan lereng
Merapi, Merbabu, Sumbing, Andong, dan Menoreh . Selain itu, tantangan yang
dihadapi dalam penanganan kekeringan antara lain masih adanya fragmentasi data
antarinstansi serta pola distribusi air bersih yang cenderung reaktif dan belum
berbasis prioritas kebutuhan .
Dalam konteks kebijakan, Pemerintah Kabupaten Magelang terus
memperkuat upaya penanggulangan bencana melalui peningkatan kapasitas
kelembagaan, penguatan sistem informasi, serta kolaborasi pentahelix yang
melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, dan masyarakat . Langkah
ini diharapkan mampu meningkatkan ketahanan daerah serta menekan risiko bencana
secara berkelanjutan.
Melalui rakor ini, diharapkan seluruh pihak dapat meningkatkan
kesiapsiagaan, memperkuat koordinasi, serta mengoptimalkan sumber daya yang
ada, sehingga dampak musim kemarau tahun 2026 dapat diminimalisir dan kebutuhan
masyarakat, khususnya terkait ketersediaan air bersih, tetap terpenuhi secara
efektif dan tepat sasaran.