Kembali

Dampak Banjir Lahar Hujan, BBWSSO Pimpin Kerja Bakti Pembersihan Sungai Pabelan

MAGELANG, 7/3/26


Semangat gotong royong mewarnai pembersihan Sungai Pabelan pasca bencana banjir lahar hujan yang melanda wilayah tersebut beberapa hari lalu. Bertempat di Jembatan Srowol, Desa Progowati, Kecamatan Mungkid, Pemerintah Kabupaten Magelang mengerahkan seluruh unsur untuk memulihkan akses dan kebersihan lingkungan pada Sabtu (7/3/2026).

Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak, Komandan Kodim 0705/Magelang, Kapolres Magelang, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Magelang, serta jajaran Pemerintah Kecamatan Mungkid dan Pemerintah Desa Progowati beserta para dukuh. Tak ketinggalan, puluhan relawan dari berbagai organisasi kemasyarakatan juga turun tangan membantu proses pembersihan.

Diketahui, banjir lahar hujan melanda aliran Sungai Pabelan pada Selasa, 3 Maret 2026, sekitar pukul 17.00 WIB. Bencana ini dipicu oleh tingginya intensitas hujan di puncak gunung Merapi yang menyebabkan material vulkanik dari Sungai Senowo dan Pabelan turun dan bercampur dengan peningkatan debit air dari Sungai Apu dan Sungai Tlising. Akibatnya, aliran lahar hujan yang cukup deras mengancam infrastruktur di sepanjang aliran sungai, termasuk di kawasan Jembatan Srowol.

Banjir di Sungai Senowo, tepatnya di Desa Krinjing, Kecamatan Dukun, bahkan menimbulkan korban jiwa. Menanggapi situasi tersebut, Bupati Magelang telah menetapkan status tanggap darurat bencana selama enam hari, terhitung sejak Selasa (3/3/2026) kemarin.

"Status tanggap darurat ini kita tetapkan untuk memberikan keluasan gerak bagi tim SAR dalam operasi pencarian dan pertolongan, serta memudahkan koordinasi lintas instansi dalam penanganan dampak bencana lainnya, seperti kerusakan jembatan, infrastruktur publik, dan pembersihan material di pemukiman warga," ujar Bupati Magelang Grengseng Pamuji saat ditemuai awak media di kantor BPBD Kabupaten Magelang.

Ia menambahkan bahwa pembersihan di Jembatan Srowol ini merupakan prioritas karena merupakan akses vital bagi masyarakat. Material seperti kayu, lumpur, dan bebatuan yang menyumbat aliran sungai dan mengendap di sekitar jembatan harus segera dievakuasi untuk mengantisipasi banjir susulan.

Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih dapat memicu terjadinya bencana Hidrometeorologi. (tege akatsuki )