
Cuaca ekstrem berupa hujan dengan intensitas sedang hingga
lebat yang disertai angin kencang melanda Kabupaten Magelang pada Senin
(12/1/2026) sore. Kondisi tersebut memicu sedikitnya enam kejadian bencana yang
tersebar di Kecamatan Salaman dan Kecamatan Borobudur. Dampak yang ditimbulkan
beragam, mulai dari rumah warga rusak, bangunan usaha ambruk, pohon tumbang
yang menutup akses jalan dan jaringan listrik, hingga tanah longsor yang
mengancam permukiman serta memutus jalur penghubung antarwilayah.
Kejadian pertama tercatat sekitar pukul 15.00 WIB di Dusun
Dawungan, Desa Ngadirejo, Kecamatan Salaman. Hujan lebat disertai angin kencang
menyebabkan sebuah pohon kelapa tumbang dan menimpa rumah Ibu Suprapti (60).
Akibat peristiwa tersebut, rumah mengalami kerusakan pada bagian atap
Pada waktu yang hampir bersamaan, angin kencang di Dusun
Drojogan, Desa Sidomulyo, Kecamatan Salaman, mengakibatkan bangunan usaha
pembuatan genting milik Bp. Fahrodin (56) ambruk dan mengalami kerusakan berat.
Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, namun kerugian material diperkirakan
cukup besar. Masih di Kecamatan Salaman, sebuah pohon waru di Dusun Alun-alun,
Desa Menoreh, roboh dan menimpa rumah milik Muhammad Saiful Huda (41) yang
dihuni satu kepala keluarga dengan empat jiwa, sehingga bangunan rumah
mengalami kerusakan ringan.
Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Kabupaten Magelang, Cahyono Dwikartiputra,
menjelaskan bahwa kejadian bencana pada hari tersebut berdampak pada beberapa
kerusakan rumah dan beberapa infrastruktur jalan.
“Sementara yang tercatat di Pusdalops ada 3 rumah rusak akibat
angin kencang, 2 rumah terancam longsor dan akses jalan terutup” ujarnya saat
meninjau tanah longsor di Dusun Dawungan, Selasa (13/1/2026).
Cahyono menambahkan, untuk longsor yang menutup akses jalan
di Dusun Tanjung, Desa Ngadiharjo, Kecamatan Borobudur, BPBD telah
berkoordinasi dengan Dinas PUPR dan pemerintah desa.
“Hasil asesmen dengan DPU penanganan tidak memungkinkan
menggunakan alat berat (backhoe) karena medan dan akses yang terbatas,
sehingga pembersihan material longsor sementara dilakukan secara manual melalui
kerja bakti warga,” terangnya
Pihaknya saat ini terus melakukan pemantauan dilakukan di
lokasi-lokasi rawan longsor untuk mengantisipasi kemungkinan kejadian susulan. “Kami
masih melakukan pemantauan karena kondisi tanah di beberapa titik masih labil.
Jika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi, potensi longsor susulan
masih ada,” tambahnya.
Di Kecamatan Borobudur, hujan lebat yang mengguyur wilayah
Dusun Tanjung, Desa Ngadiharjo sejak siang hari dan terjadi beberapa hari
terakhir menyebabkan tanah pada tebing menjadi jenuh air dan labil. Sekitar
pukul 16.15 WIB terjadi longsor pada tebing setinggi kurang lebih delapan meter
dengan lebar sekitar enam meter. Material longsoran menutup akses jalan
lingkungan dan mengenai tembok rumah warga, sehingga mengancam rumah milik
Sriwoto yang dihuni satu kepala keluarga dengan empat jiwa.
Sriwoto, warga Dusun Tanjung yang terdampak longsor,
menuturkan bahwa peristiwa tersebut terjadi secara tiba-tiba dan kondisi tanah
terus bergerak setelah longsor pertama. “Tanahnya mendadak longsor dan setelah
itu masih bergerak. Kami khawatir terjadi longsor susulan, sehingga saya dan
keluarga memilih mengungsi sementara ke rumah tetangga demi keselamatan,”
ujarnya.
Selain kejadian angin kencang dan longsor, hujan dengan curah
tinggi juga menyebabkan rumah roboh di Dusun Salakan, Desa Kalisalak, Kecamatan
Salaman, sekitar pukul 17.30 WIB. Bagian dapur rumah milik Bp. Agus Mustolih
ambruk akibat kondisi konstruksi bangunan yang kurang kuat serta pondasi yang
mengalami amblas karena tergerus air hujan. Pada sore hari yang sama, longsor
talud juga terjadi di Dusun Kempul, Desa Menoreh, Kecamatan Salaman. Talud
setinggi sekitar tiga meter dengan panjang tujuh meter longsor akibat hujan
ringan hingga sedang dan mengancam rumah milik Ibu Ernawati yang berada tepat
di atas tebing.
Menanggapi rangkaian kejadian tersebut, Kepala Pelaksana BPBD
Kabupaten Magelang, Edi Wasono, mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan
kewaspadaan di puncak musim hujan tahun yang diprakirakan terjadi di bulan Januari
2026 ini.
“Cuaca ekstrem masih berpeluang terjadi terutama puncak musim
hujan saat ini, hal tersebut bisa memicu bencana-bencana susulan. Kami
mengimbau masyarakat, terutama yang tinggal di wilayah rawan, agar tetap
waspada dan segera melapor apabila terjadi kondisi darurat,” kata Edi Wasono.
Sebagai tindak lanjut, BPBD Kabupaten Magelang bersama
relawan, pemerintah desa, dan warga setempat segera melakukan penanganan
darurat di sejumlah titik kejadian. Penanganan dilakukan melalui kerja bakti
pembersihan material pohon tumbang dan longsoran, pengamanan lokasi rawan,
serta pembukaan akses jalan secara bertahap.
Selain itu BPBD Kabupaten Magelang juga telah
mendistribusikan bantuan logistik kerja bakti serta terpal kepada warga yang
rumahnya mengalami kerusakan akibat bencana. Bantuan tersebut digunakan sebagai
perlindungan sementara sekaligus mendukung proses pemulihan awal di lokasi
terdampak.
Hingga saat ini, BPBD Kabupaten Magelang masih melakukan
pemantauan di sejumlah lokasi rawan, terutama pada tebing dan talud yang
berpotensi mengalami longsor susulan. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada,
membatasi aktivitas di sekitar lokasi rawan saat hujan turun, serta segera
mengungsi apabila kondisi dinilai membahayakan keselamatan.