Kembali

Cuaca Ekstrem dan Longsor Landa Kabupaten Magelang, Akses Jalan dan Rumah Warga Terdampak


Cuaca ekstrem berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai angin kencang melanda wilayah Kabupaten Magelang pada Minggu (1/2/2026) pagi. Kondisi tersebut memicu sedikitnya tiga kejadian bencana, terdiri dari satu kejadian angin kencang dan dua kejadian tanah longsor yang tersebar di Kecamatan Mungkid dan Kecamatan Borobudur. Dampak kejadian tersebut meliputi akses jalan tertutup, rumah warga rusak ringan, serta sejumlah rumah dan fasilitas pendidikan yang berada dalam ancaman longsor.

Peristiwa cuaca ekstrem terjadi di Dusun Sawitan 1, Desa Sawitan, Kecamatan Mungkid, pada Minggu (1/2/2026) sekitar pukul 09.30 WIB. Hujan dengan intensitas sedang yang disertai angin kencang menyebabkan tiga pohon tumbang dan menutup akses Jalan Provinsi Mendut–Borobudur, tepatnya di sebelah timur Jembatan Brojonalan.

Akibat kejadian tersebut, arus lalu lintas sempat terganggu karena material pohon menutup seluruh badan jalan. Petugas dari BPBD Kabupaten Magelang bersama unsur TNI, Polri, Satpol PP dan PK, relawan, serta warga setempat segera melakukan penanganan darurat dengan pembersihan material pohon tumbang agar akses jalan dapat kembali dilalui.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang, Edi Wasono, menjelaskan bahwa kejadian angin kencang tersebut merupakan dampak dari kondisi cuaca yang tidak stabil dalam beberapa hari terakhir.

“Berdasarkan kaji cepat di lapangan, hujan disertai angin kencang menyebabkan beberapa pohon tumbang dan menutup akses jalan provinsi. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, dan penanganan langsung dilakukan secara terpadu agar akses vital dapat segera dibuka kembali,” ujar Edi.

Selain angin kencang di Mungkid, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat juga memicu dua kejadian tanah longsor di wilayah Kecamatan Borobudur pada hari yang sama.

Kejadian pertama terjadi di Dusun Miriombo Kulon, Desa Giripurno, sekitar pukul 09.30 WIB. Longsoran tebing menutup akses jalan desa serta berdampak langsung pada rumah warga. Satu rumah milik Ibu Rukilah (1 KK, 3 jiwa) mengalami rusak ringan setelah teras rumahnya terseret material longsor.

Tidak hanya itu, longsor juga mengancam tiga rumah warga, masing-masing milik Bp. H. Mulyono, Bp. Sukamto (1 KK, 4 jiwa), dan Ibu Sukasih (1 KK, 2 jiwa). Pada lokasi yang sama, talud sepanjang sekitar 15 meter dengan tinggi 5 meter mengalami longsor dan materialnya telah mengenai dinding kamar mandi salah satu rumah warga.

Material longsoran juga dilaporkan mengancam bangunan PAUD Giri Asih yang berada di atas lereng, serta memutus akses jalan menuju tiga rumah warga lainnya, yakni milik Bp. Tukidi (1 KK, 7 jiwa), Bp. Bandi (1 KK, 3 jiwa), dan Bp. Ari (1 KK, 3 jiwa).

Edi Wasono mengatakan bahwa kondisi di Dusun Miriombo Kulon masih memerlukan kewaspadaan tinggi, mengingat potensi longsor susulan masih ada apabila hujan kembali turun dengan intensitas tinggi.

“Di Giripurno, longsor tidak hanya berdampak pada satu rumah rusak ringan, tetapi juga mengancam beberapa rumah dan fasilitas pendidikan. BPBD telah melakukan kaji cepat dan berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk langkah penanganan lanjutan, termasuk rencana penanganan talud yang longsor,” jelasnya.

Kejadian tanah longsor lainnya terjadi di Dusun Sidengen Selatan, Desa Ngadiharjo, Kecamatan Borobudur, pada Minggu (1/2/2026) sekitar pukul 07.30 WIB. Hujan dengan intensitas sedang menyebabkan tebing di sekitar permukiman warga longsor dan menimpa bagian dinding rumah.

Akibat kejadian tersebut, satu rumah milik Bp. Susilo (1 KK, 6 jiwa) mengalami rusak ringan. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun penghuni rumah sempat panik saat material tanah menimpa bangunan mereka.

TRC BPBD Kabupaten Magelang segera melakukan kaji cepat di lokasi dan berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat. Penanganan darurat dilakukan bersama TNI, Polri, BPBD, relawan, dan warga, termasuk pembersihan material longsor dan pengamanan area rawan.

BPBD Kabupaten Magelang menyatakan bahwa seluruh kejadian bencana yang terjadi pada Minggu pagi tersebut telah ditangani secara cepat melalui mekanisme tanggap darurat. Kaji cepat dilakukan untuk memastikan tingkat kerusakan, dampak terhadap warga, serta potensi ancaman lanjutan.

Untuk kejadian longsor di Dusun Miriombo Kulon, BPBD bersama pemerintah desa dan unsur terkait merencanakan penanganan talud longsor yang mengancam rumah warga. Penanganan tersebut dijadwalkan dilakukan pada Senin (2/2/2026) dengan mempertimbangkan kondisi cuaca dan keselamatan petugas.

“Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah desa, relawan, dan unsur terkait lainnya. Prinsipnya, keselamatan warga menjadi prioritas utama. Jika kondisi cuaca masih ekstrem, kami mengimbau warga yang tinggal di wilayah rawan longsor untuk meningkatkan kewaspadaan,” tegas Edi Wasono.

 Pihaknya juga mengingatkan bahwa saat ini wilayah Kabupaten Magelang masih berada dalam periode cuaca ekstrem, terutama pada puncak musim hujan. Kondisi tanah yang jenuh air meningkatkan risiko terjadinya tanah longsor, terutama di wilayah perbukitan dan lereng.

Dengan adanya kejadian ini, BPBD Kabupaten Magelang kembali menegaskan pentingnya kesiapsiagaan dan peran aktif masyarakat dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi yang masih berpeluang terjadi dalam beberapa waktu ke depan.